Hilirisasi nikel sering digadang-gadang sebagai tulang punggung transisi energi global, terutama untuk produksi baterai kendaraan listrik (EV). Namun, data terbaru dari laporan CREA mengungkap fakta mengejutkan: 83% nikel Indonesia ternyata bukan untuk kendaraan listrik.
Bukan EV, Tapi Baja Tahan Karat
Selama ini publik berasumsi bahwa setiap tambang nikel yang dibuka langsung terhubung dengan ekosistem energi hijau. Realitanya, hanya sekitar 17% nikel yang benar-benar masuk ke rantai pasok EV. Mayoritas besar (83%) justru digunakan untuk industri baja tahan karat (stainless steel).
Ironisnya, industri baja ini banyak menyuplai kebutuhan kendaraan konvensional (ICE) yang masih berbasis energi fosil. Hal ini menunjukkan bahwa nikel kita masih terikat kuat pada ekonomi karbon lama, bukan sepenuhnya pada masa depan hijau.
Ironi "Nikel Hijau" dan PLTU Batu Bara
Pertumbuhan industri nikel di Indonesia saat ini sangat ditopang oleh PLTU Captive, pembangkit listrik batu bara khusus yang berada di kawasan industri. Katherine Hasan, Analis dari CREA, menekankan bahwa memisahkan industri nikel dari batu bara adalah langkah strategis. Tanpa dekarbonisasi, klaim "nikel hijau" Indonesia akan sulit diterima pasar internasional.
Ancaman Standar Emisi Global
Dunia kini bergerak menuju standar emisi yang sangat ketat. Kebijakan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism(CBAM) di Uni Eropa mulai mewajibkan pelaporan jejak karbon yang transparan. Jika nikel Indonesia tetap diproduksi dengan emisi tinggi, produk kita berisiko tersingkir dari rantai pasok premium global.
Indonesia harus segera beralih ke energi terbarukan dalam proses pengolahan mineral. Langkah ini bukan hanya demi lingkungan, tapi juga strategi ekonomi agar visi Indonesia Emas 2045 tidak kehilangan peluang di pasar energi bersih dunia.
Ingin tahu lebih lanjut? Baca laporan lengkapnya: “Nikel Indonesia: Ditargetkan untuk EV, namun masih terparkir di baja tahan karat” melalui tautan berikut.




